Jumat, 08 April 2011

PEMUPUKAN BERIMBANG


 
Pupuk merupakan salah satu faktor produksi utama selain lahan, tenaga kerja dan modal.  Pemupukan memegang peranan penting dalam upaya meningkatkan hasil pertanian.
            Anjuran pemupukan terus digalakkan melalui program pemupukan berimbang (dosis dan jenis ) disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan kondisi lokasi/spesifik lokasi, namun sejak sekitar tahun 1996 telah terjadi peladaian produktifitas (leveling off) sedangkan penggunaan  pupuk terus meningkat.  Hal ini berarti suatu petunjuk terjadi penurunan efesiensi pemupukan karena berbagai faktor tanah dan lingkungan yang harus dicermati.
            Takaran pupuk yang digunakan untuk memupuk satu jenis tanaman akan berbeda untuk masing-masing jenis tanah, hal ini dapat dipahami karena setiap jenis tanah memiliki karakteristik dan susunan kimia tanah yang berbeda.  Oleh karena itu anjuran (rekomendasi) pemupukan harus dibuat lebih rasional dan berimbang berdasarkan kemampuan tanah menyediakan hara tanaman itu sendiri sehingga efesiensi penggunaan pupuk dan produksi meningkat tanpa merusak lingkungan akibat pemupukan yang berlebihan.  Dari uraian di atas terlihat bahwa pemakaian pupuk secara berimbang sampai saat ini masih merupakan pilihan yang paling baik bagi petani dalam kegiatan usaha taninya untuk meningkatkan pendapatan.  Percepatan peningkatan produksi pangan harus dilaksanakan secara konsepsional melalui  program sosialisasi yang terpadu.
            Pemupukan terhadap satu pertanaman berarti menambah/menyediakan unsur hara untuk tanaman.  Dengan demikian program pemupukan berimbang dapat saja menggunakan pupuk tunggal (Urea, ZA, SP 36 dan KCL) dan atau pupuk majemuk (NPK).

Mengapa pemupukan harus berimbang
            Untuk meningkatkan hasil dan mutu pada suatu tanaman memerlukan zat hara dalam jumlah banyak diantaranya Nitrogen (N), Fosfat (P), Kalium (K) dan Belerang (S).  Kecuali itu diperlukan unsur hara sekunder seperti Kalsium (Ca), dan Magnesium (Mg) serta unsur hara mikro yang jumlahnya sangat sedikit seperti Seng (Zn), Tembaga (Cu) dan besi (Fe) dll.
            Tanaman yang kekurangan Urea (Zat Hara N) tumbuhnya kerdil, anakan sedikit dan daunnya berwarna kuning pucat, terutama daun tua.  Sebaliknya tanaman yang dipupuk Urea berlebihan, tumbuhnya subur, daun hijau, anakan banyak tetapi jumlah malai sedikit, mudah rebah dan pemasakan lambat.
            Tanaman yang kekurangan zat hara fosfat (P) tumbuhnya kerdil, daun berwarna hijau tua, anakan sedikit, malai dan gabah sedikit, pemasakan lambat dan sering tidak menghasilkan gabah.
            Tanaman yang kekurangan Kalium (K) batangnya tidak kuat, daun terkulai dan cepat menua, mudah terserang hama dan penyakit, gabahnya banyaj yang hampa, butir hijau banyak dan mutu beras menurun.
            Meskipun kebutuhan zat hara belerang tidak sebanyak N, tetapi apabila kekurangan maka tanaman juga kerdil, daun berwarna kuning pucat, terutama daun muda, hasil gabah dan  mutu beras menurun.
            Agar tanaman dapat tumbuh sehat dengan hasil dan mutu beras tinggi, maka zat-zat hara tersebut jumlahnya dalam tanah harus cukup untuk memenuh kebutuhan tanaman.  Apabila salah satu zat hara dalam tanah jumlahnya tidak cukup, maka hasil dan mutu beras akan menurun.   Oleh karena itu pemupukan berimbang, dimana jenis dan dosis harus sesuai dengan kebutuhan tanaman dan zat hara yang tersedia dalam tanah (tingkat kesuburan tanah).

Apa itu pemupukan berimbang
            Selama ini di masyarakat berkembang pengertian bahwa pemupukan berimbang adalah pemupukan yang menggunakan pupuk majemuk NPK.  Pengertian ini kurang tepat karena pemupukan berimbang adalah menyediakan semua zat-zat hara yang cukup sehingga tanaman mencapai hasil tinggi dan bermutu serta meningkatkan pendapatan petani.  Oleh karena itu jenis dan dosis pupuk yang diberikan harus sesuai dengan tingkat kesuburan dan kebutuhan tanaman.  Dengan demikian jenis dan dosis yang diberikan tidak dapat disamaratakan tetapi harus sesuai dengan spesifik lokasi.
            Pupuk yang diberikan dapat berupa pupuk tunggal seperti Urea, SP 36 dan KCL, pupuk majemuk ditambah pupuk tunggal atau campuran pupuk tunggal.

Apakah keuntungan pemupukan berimbang
            Keuntungan utama dari penerapan pemupukan berimbang adalah petani dapat memupuk lebih efesien karena jenis dan dosis pupuk disesuaikan dengan kebutuhan tanaman dan tingkat kesuburan tanah.
            Apabila tanahnya subur, dimana kadar Fosfat dan Kaliumnya cukup tinggi, maka sebenarnya cukup diberikan Nitrogen.  Pemberian pupuk P dan K sedikit saja, untuk menggangi hara P dan K yang terangkut saat panen, yaitu sebesar 50 kg SP 36 dan 50 kg KCL per Ha.  Apabila pemberian pupuk P dan K pada tanah tersebut berlebihan, maka sisanya tidak terpakai, sebagian besar hilang terbawa air hujan atau air irigasi dan ini merupakan pemborosan.
            Namun sebaliknya jika tanah kekurangan Fosfat dan Kalium maka harus dipupuk langkap NPK sesuai dosis anjuran.  Inilah pengertian pemupukan berimbangan.

Dimana dan bagaimana menerapkan pemupukan berimbang
            Kandungan zat hara N, P, K dalam tanah berbeda-beda, tergantung sifat-sifat tanahnya.  Sebagai contoh kandungan zat hara pada tanah yang berat/liat akan berbeda dengan tanah berpasir.  Oleh karena itu jenis dan dosis pupuk pada kedua jenis tanah tersebut harus berbeda.
            Untuk mengetahui kandungan zat hara dalam tanah diperlukan pemeriksaan kandungan zat hara dalam tanah disebut uji tanah.  Pemeriksaan tanah dilakukan oleh Balai Penelitian Tanah atau Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) atau  perguruan tinggi yang ada di daerah.
            Pemeriksaan tanah diawali dengan pengambilan contoh tanah oleh penyuluh pertanian setempat dibantu petani.  Untuk itu perlu adanya pelatihan pengambilan contoh tanah kepada penyuluh dan petani.  Setiap contoh tanah mewakili kurang lebih 15 – 25 Hektar lahan dan pengambilan cukup dilakukan sekali 1 – 2 tahun.
            Anjuran jenis dan dosis pupuk kepada petani akan diberikan BPTP setempat melalui Dinas Pertanian dan Penyuluh di daerah.  Petani bebas memilih pupuk, apakah menggunakan pupuk majemuk atau pupuk tunggal.  Namun perlu hati-hati dalam memilih jenis pupuk agar petani tidak merugi.

Apa itu peta P dan K tanah dan apa kegunaannya
            Saat ini telah dilakukan pemeriksaan kandungan zat hara P dan K dalam tanah di sebagian besar lahan sawah di Indonesia.  Hasilnya berupa peta hara P dan K.  Peta tersebut diberi tiga warna, yaitu merah berarti kandungan haranya rendah, warna merah kuning berarti sedang dan warna hijau berati tinggi.  Peta tersebut digunakan untuk anjuran pemupukan.
            Untuk hara N tidak dilakuakan pembuatan peta status hara N karena umumnya kadar N tanah di Indonesia rendah, sehingga secara umum harus dipupuk 250 – 300 kg per Ha.
           

Dibawah ini disajikan dosis anjuran pupuk SP 36 dan KCL untuk padi sawah berdasarkan status hara fosfat dan kalium pada tanah sawah.
Kelas Status Hara Tanah
Anjuran Pemupukan Berimbang Spesifik Lokasi (kg/ha)
P
K
Urea
SP 36
KCL
Rendah
Sedang
Tinggi
Rendah
Sedang
Tinggi
Rendah
Sedang
Tinggi
Rendah
Sedang
Tinggi
250
250
250
250
250
250
250
250
250


100
100
100
75
75
75
50
50
50
100
50
50
100
50
50
100
50
50
Sumber : PT. PUPUK SRIWIDJAJA



1 komentar:

  1. ka ,mau tanya kalau misalnya pemanfaatan lahan kering di kerinci dengan pemberian pupuk HOSC bisakah ?mohon infonya untuk tugas ketahanan pangan

    BalasHapus