Kamis, 17 November 2011

MENGENDALIKAN LAYU FUSARIUM PADA TOMAT,CABE dan KENTANG

Penyakit layu pada tanaman yang paling sering terjadi adalah akibat serangan jamur atau akibat bakteri.  Hanya pada umumnya petani kita suka salah kaprah dalam menganalisa dan pemberian langkah pengendaliannya.  Menurut hasil pengamatan kami dilapangan yang paling sering terjadi adalah akibat serangan jamur/cendawan Fusarium sp.
Gejala awal penyakit layu Fusarium tomat berupa pucatnya tulang daun, terutama daun sebelah atas, kemudian diikuti dengan merunduknya tangkai, dan akhirnya tanaman menjadi layu secara keseluruhan. Seringkali kelayuan didahului dengan menguningnya daun, terutama daun bagian bawah. Kelayuan dapat terjadi sepihak. Pada batang kadang terbentuk akar adventif. Pada tanaman yang masih muda dapat menyebabkan matinya tanaman secara mendadak karena pada pangkal batang terjadi kerusakan (Semangun, 2002).
Cara paling mudah dan sederhana untuk membedakan antara kedua mikroorganisme penyebab layu,yaitu dengan cara memotong secara melintang batang tanaman (tomat,cabe,atau kentang).  Batang tanaman yang layu,apabila dipotong melintang terdapat warna coklat kehitaman ,maka dugaan besar,tanaman terserang oleh cendawan/jamur Fusarium sp.  Untuk lebih meyakinkan lagi,rendamlah batang tanaman tersebut,pada botol plastik yang diisi air,apabila dalam tempo satu malam,tidak keluar cairan seperti lendir,maka sudah bisa dipastikan bahwa tanaman terkena layu akibat,JAMUR. Namun ,Apabila dari batang tersebut keluar eksudat lendir,maka bisa dipastikan bahwa tanaman terserang BAKTERI, Pseudomonas sp.
Menurut pengamatan kami,justru kesalahan terbesar dalam praktek budidaya petani kita adalah,pemberian obat bukan pada sasarannya.  Kami ungkap diatas sebagai tindakan pengendalian yang salah kaprah,karena penyakit layu akibat jamur,tetapi diberi "obat" untuk layu bakteri.  Padahal saat ini sebagian besar petani memberikan bakterisida pada tanaman yang terkena layu.  Efek dari pemberian bakterisida ini,selain penyakit LAYU nya tetap tak terkendalikan juga pemberian bakterisida terus menerus,bisa menyebabkan musnahnya bakteri-bakteri didalam tanah,bukan saja hanya bakteri yang merugikan tetapi bakteri-bakteri yang menguntungkan,seperti bakteri pengurai ikut mati.
Banyaknya kasus LAYU tanaman yang terjadi,menggugah kita untuk,secara aktif melakukan uji coba pada berbagai tanaman hortikultura,seperti pada Tomat,Cabe dan Kentang.
A.1. Gambar diatas ini kami ambil,pada saat uji terap kami di daerah Cibuluh, Cikajang, Garut.
Dalam hal ini,uji terap yang kami lakukan adalah diantaranya uji terap perihal pengendalian Layu.
Tampak tanaman tomat ditumpangsarikan dengan Petcay,sebagai patokan kami ambil berupa,pohon besar yang terpisah sendiri.
A.2.Selanjutnya, tanaman kami pantau lagi . Hasilnya seperti nampak pada gambar diatas.
A.3.  Pada saat tanaman sudah berbuah,terlihat buah bagian atas,tampak besarnya hampir sama dengan buah bagian bawah (bisa dilihat pada foto dibawah ini). Lokasi tidak berpindah,pengambilan gambar masih tetap dalam sudut yang sama.
A.3. :Pada saat yang bersamaan kami mengambil gambar dibagian bawah,tanaman.  Tampak tanaman sehat,daun tebal kebiru-biruan.  Pada uji terap ini kami,secara khusus melakukan penelitian untuk mengendalikan penyakit Layu.
Adapun langkah- langkah yang kami lakukan adalah sbb: 
Mengacu dari beberapa hasil penelitian tentang Layu fusarium,hasilnya antara lain,
Perkembangan  F. oxysporum sangat sesuai pada tanah dengan kisaran pH 4,5-6,0. pH optimum  untuk pensporaan sekitar 5,0, pensporaan yang terjadi pada tanah dengan pH di bawah 7,0 adalah 5-20 kali lebih besar dibandingkan dengan tanah yang mempunyai pH di atas 7,0 (Sastrahidayat, 1990). Pada pH di bawah 7,0 pensporaan terjadi secara melimpah pada semua jenis tanah, tetapi tidak akan terjadi pada pH di bawah 3,6 atau di atas 8,8. Suhu optimum untuk pertumbuhan jamur   F. oxysporum adalah 20-300C, maksimum pada suhu 370C atau di bawahnya, sedangkan suhu optimum untuk pensporaan adalah 20-250C (Domsch et al., 1993). (Data diambil dari Evan Ramdan's Blog).
Keterangan diatas berdasarkan bahasa "sekolahan",kami terbiasa dengan bahasa petani saja,yaitu bahwa PADA TANAH YANG ASAM,JAMUR AKAN BERKEMBANG.  Hal ini biasa kita analogikakan (dipersamakan) dengan contoh antara lain, Nasi,Roti atau sayur yang sudah "MASAM",biasanya akan "JAMURAN".
Nah... demikian juga dengan Tanah yang Asam, tentunya akan mendukung akan tumbuhnya Jamur...
Pada praktek sehari- hari,entah sadar atau tidak,justru petani mengkondisikan agar tanahnya makin Masam.  Pemberian pupuk dasar kimia yang banyak,plus ditambah lagi pemberian pupuk susulan,makin mendukung agar tanah makin Masam.  Makanya tidak heran apabila gejala layu,justru tampak setelah pemberian PUPUK SUSULAN (pupuk kimia).  
Menyimak dari keterangan diatas,kami dari PT.KEMBANG LANGIT ,mempunyai tehnik untuk mengendalikan penyakit ini adalah:
1.  Waspadai pemberian PUPUK KIMIA,yang cenderung bersifat ASAM.
2.  Netralisir keasaman tanah dengan Calsium.  Secara khusus kami biasa menggunakan PUPUK CAS (Pupuk CALSIUM plus,yang sudah dilengkapi dengan mikroorganisme pengurai,yang berfungsi "Ngecas" lagi tanah- tanah yang sudah "lowbat",akibat tidak hentinya penggunaan pupuk kimia)



3.  Pemberian secara khusus GULA PATI (GLUKOSE) yang bersumber dari tanaman. .  Dalam hal ini,kami menggunakan gula glokose dari PROTEK-tan (Proses nya secara hydrolisis pati dengan metode enzimatis). Pemberian PROTEK-tan ini kami lakukan secara di corkan.
4.  Pemberian pupuk yang mengandung kadar GARAM (NaCl)

Pemberian unsur Chlor,terkadang bisa jadi sangat diperlukan.  Hanya saran kami pemberian unsur Chlor harus terkontrol, sebab unsur Chlor yang terlalu tinggi dan pemberian secara terus menerus,bisa berakibat terjadinya kerusakan tanah ,karena mikroorganisme yang ada dalam tanah tidak berkembang. Contoh mudahnya adalah,ikan yang telah digarami (ikan asin)jadi bisa disimpan dalam waktu yang lama,alias jadi awet,karena mikroorganisme (jamur dan bakteri) pada ikan menjadi tidak berkembang,setelah digarami.
Langkah-langkah pengendalian diatas bukan tanpa alasan,kami melakukannya dalam riset yang cukup panjang.  Kami mengibaratkannya dengan buah kedondong/buah mangga  muda yang sangat asam,kalau dimakan langsung  mungkin kita tidak mau,tetapi kalau kita buat MANISAN/ASINAN (orang bogor bilang) terlebih dulu,rasanya jadi segar dan nikmat.
Sedangkan proses buah yang rasanya asam,agar menjadi segar dan enak,adalah dengan memberikan GULA,GARAM  DAN  SEDIKIT KAPUR/Calsium (dan bumbu-bumbu lainn tentunya) atau dengan kata lain dibuat ASINAN/MANISAN.
Hal ini kami lakukan juga pada TANAH YANG ASAM, kami berikan Calsium/kapur (PUPUK CAS)  plus Gula/Glukosa (PROTEK-tan), dan pemberian kadar unsur Garam sedikit saja...Jadi deh,tanah asam menjadi "tanah manisan/asinan". Jadi tidak perlu lagi Bakterisida ,yang salah kaprah itu,...mahal lagi...

Jumat, 04 November 2011

Memacu Kenaikan Produksi Kacang Tanah.

Dalarn memacu kenaikan produksi kacang tanah, ketersediaan paket teknologi produksi merupakan salah satu komponen penting dari empat komponen usaha tani yang saling terkait, yaitu lahan, petani, teknologi, dan fakcor penunjang. Upaya pemacuan teknologi perlu terus dilakukan agar mampu mendorong peningkatan produksi dan menunjang kegiatan agribisnis berorientasi ekspor. Dengan cara ini maka diiharapkan kacang tanah dapat menjadi produk unggulan dan menjadi sumber pendapatan petani. Kegiatan produksi secara intensifikasi masih dihadapkan pada beberapa kendala antara lain ketersediaan benih bermutu varietas unggul dan teknologi produksi spesifik agroekologi.
 
Di Indonesia, lahan sawah yang setiap tahun ditanami kacang tanah hanya mencapai 220.000 ha atau 30% dari luas total perta-naman kacang tanah. Produktivitas yang dicapai masih sangat beragam antara 0,8-2,0 ton/ha atau rata-rata 1,2 ton/ha. Ada banyak faktor yang mempengaruhi keragaman produktivitas tersebut, yaitu karena adanya perbedaan cara bertanam, kesuburan tanah, ketersediaan air irigasi, dan pengendalian hama penyakit.
Adapun komponen-komponen teknologi penting yang hams diperhatikan apabila ingin menanam kacang tanah di lahan sawah adalah sebagai berikut.
 
Pola Tanam
Di lahan sawah, kacang tanah biasanya ditanam setelah padi atau musim kemarau pertama (Maret/April-Mei/Juni) dan kemarau kedua (Juni/Juli-September/Oktober). Pola penanamannya adalah padi-padi-kacang tanah untuk sawah irigasi teknis atau padi-kacang tanah untuk sawah irigasi terbatas dan sawah tadah hujan.
Penanamannya sebaiknya tidak lebih dari seminggu setelah panen padi, terutama pada lahan yang tidak memerlukan pengolahan tanah terlebih dahulu (sawah dengan kandungan pasir cukup banyak). Bila waktu tanam ditunda lebih dari seminggu setelah panen padi maka produksi dapat turun sampai 50%. Ini terjadi akibat kekurangan air karena sistem giliran yang tidak selalu tepat dengan kebutuhan tanaman. Selain itu, turunnya hasil terjadi karena meningkatnya serangan hama penyakit akibat kondisi lingkungan yang umumnya lebih panas dan lembap sehingga dapat memacu serangan hama penyakit.
 
Penyiapan Lahan
Pada kacang tanah, ginofor yang terbentuk harus dapat menerobos lapisan permukaan tanah dan masuk ke dalam tanah. Selanjutnya ginofor membentuk polong dan biji. Untuk mendukung dan menjamin pertumbuhan ginofor dan polong dengan optimal maka penyiapan lahan harus dilakukan secara intensif.
Mengolah tanah secara intensif menyebabkan struktur tanah menjadi gembur dan remah, khususnya lahan yang tanahnya ber-struktur berat. Untuk tanah yang berstruktur ringan seperti Entisol berpasir, pengolahan tanah sebelum tanam sering kali tidak dilakukan asalkan pada saat penyiangan pertama harus diikuti dengan pem-bumbunan.Pembumbunan tersebut bertujuan mempcrsiapkan media yang baik untuk masuknya ginofor ke dalam tanah.
 
Di beberapa daerah petani memberi pupuk atau kapur/dolomit pada lahan setelah melakukan penyiangan. Di samping itu, perlu dibuat saluran drainase untuk membuang kelebihan air. Kelebihan air dapat disebabkan oleh curah hujan yang cukup besar. Saluran drainase pun dapat berfungsi sebagai saluran irigasi saat lahan memerlukan tambahan air irigasi, khususnya pada penanaman musim kemarau kedua (Juli-Oktober). Banyaknya saluran drainase sangat tergantung pada luas petakan alami yang akan ditanami. Jarak antarsaluran drainase sekitar 2-4 m, lebar 20 cm, dan dalam 25-30 cm.
Inokulasi Rhizobium
 
Seperti halnya tanaman kacang-kacangan lain, kacang tanah pun memiliki bintil akar yang mampu mengikat unsur nitrogen (N) dari udara melalui simbiose dengan bakteri rhizobium. Kacang tanah berfungsi sebagai inang perkembangan bakteri rhizobium untuk mengikat nitrogen. Akibatnya tanaman akan menerima unsur nitrogen yang ditambat oleh bintil akar. Apabila bintil akar tersebut efektif maka kemampuan menambat nitrogen dapat mencukupi kebutuhan nitrogen sebesar 80-90%.
 
Lahan sawah yang sudah sering ditanami kacang tanah - paling tidak selama tiga tahun berurutan - maka tindakan pemberian inokulasi pada benih tidal lagi diberikan. Apabila diberikan juga, hal ini tidak akan memberikan nilai tambah terhadap kenaikan produksi. Sementara lahan sawah yang jarang atau belum pernah ditanami kacang tanah perlu dilakukan inokulasi benih. Inokulasi benih meng-gunakan rhizobium dengan dosis 10 g/ 1 kg benih atau mengguna-kan tanah bekas ditanami kacang tanah sebanyak 200-300 kg/ha. Tanah bekas ditanami kacang tanah tersebut disebar pada petakan lahan yang akan ditanami, khususnya di sepanjang alur jarak tanam.
Pemberian rhizobium adalah benih dibasahi secukupnya, lalu rhizobium ditaburkan ke benih. Setelah itu, benih dimasukkan ke lubang tanam. Hindari kontak langsung antara biji dan rhizobium dengan sinar matahari.
 
Perlakuan Benih
Di beberapa sentra produksi sering dijumpai serangan rayap, terutama terjadi bila kacang tanah ditanam setelah jagung pada awal musim kemarau. Untuk itu, benih perlu diberi perlakuan khusus.
Perlakuan benih dapat dengan insektisida Furadan 3 G sebanyak 10-15 kg/ha. Sementara untuk mengurangi serangan penyakit dapat digunakan fungisida atau trichoderma. Fungisida yang digunakan adalah Captan yang dicampur benih sebelum tanam. Sementara penggunaan Trichoderma spp. baru pada tahap penelitian, belum disosialisasikan ke petani. Takaran Trichoderma spp. sebanyak 3 g/kg benih. Mula-mula Trichoderma spp. dicampur dengan beras jagung yang sudah dimasak (ditanak), lalu taburkan pada biji kacang tanah yang telah dibasahi. Biji kacang tanah ini dibasahi.agar Trichoderma spp. dapat melekat pada biji. Setelah itu, barulah biji ditanam.
 
Penanaman
Apabila penanaman kacang tanah dilakukan dengan sistem monokultur, jarak tanam optimal adalah 40 cm x 10-15 cm. Setiap lubang tanam dengan dalam 2-3 cm diisi sebanyak satu biji sehingga dalam setiap hektar terdapat 200-250 ribu tanaman. Lubang tanam dibuat dengan tugal dari kayu atau bambu.
Untuk lahan dengan kesuburan kurang-sedang, jarak tanamnya dapat dipersempit menjadi 25-30 cm x 10 cm sehingga populasinya mencapai 330-400 ribu tanaman/ha. Keperluan benih dengan cara tanam tersebut hanya sekitar 80-90 kg/ha atau 120 kg polong kering, tergantung daya tumbuh benih yang akan ditanam. Apabila petani menggunakan benih asalan yang berkualitas rendah, umum-nya setiap lubang tanam diisi sebanyak 2-3 biji. Akibatnya keperluan benih setiap hektar menjadi sekitar 100-110 kg.
 
Selain pada lubang tanam, penanaman kacang tanah pun dapat dilakukan pada larikan mengikuti alur bajak. Jarak antaralur bajak sekitar 40 cm. Cara penanamannya adalah mendrop atau menjatuhkan biji dengan jarak sekitar 10-15 cm dalam alur bajak. Keberaturan penanaman sangat menguntungkan dalam rangka pemeliharaan tanaman karena dapat meningkatkan efisiensi pelaksanaan penyiangan, pengendalian hama penyakit, maupun melakukan pengamatan kondisi
 
pertanaman.
Apabila kacang tanah ditanam secara tumpang sari dengan jagung, jarak tanam antara dua baris jagung berkisar antara 75-100 cm dan di antara barisan tanaman jagung ada sekitar 4-5 baris tanaman kacang tanah.
Agus Hariyadi, Penyuluh Pertanian, e-mail : ahariyadi54@yahoo.com
Sumber : Meningkatkan Produksi Kacang Tanah, Dr. T. Adisarwanto