Selasa, 20 Maret 2012

Mewaspadai Wereng Coklat, Penyakit Kerdil Hampa dan Kerdil Rumput

Wereng coklat merupakan salah satu hama utama tanaman padi. Hama ini telah populer di kalangan petani sejak tahun 1970-an. Wereng coklat merupakan hama global karena bukan saja menyerang pertanaman padi di Indonesia, tetapi juga menyerang pertanaman padi di Cina, Thailand, Vietnam, India, Bangladesh, Malaysia, Filipina, Jepang, dan Korea (Baehaki, 2010). Sejarah serangan wereng coklat terbesar di Indonesia pada kurun waktu 1970-1980 mencapai 2.5 juta ha. Wereng coklat kembali menjadi sorotan di era milenium ini, dengan adanya serangan pada awal tahun 2010 dari mulai rusak ringan sampai puso. Sampai bulan Juni 2010 serangan hama ini mencapai 23.187 ha, termasuk yang puso tidak kurang dari 2.867 ha.
Apa dan Bagaimana Wereng Coklat
Wereng Coklat merupakan serangga dewasa berwarna Coklat, berukuran 4-5 mm. Yang sangat istimewa dari wereng Coklat adalah semua stadia wereng Coklat (mulai dari nimfa sampai imago) menghisap cairan jaringan tanaman. Stadia yang paling ganas adalah nimfa instar 1-3. Wereng coklat berkembangbiak secara sexual, masa pra peneluran 3-4 hari untuk brakiptera (bersayap kerdil) dan 3-8 hari untuk makroptera (bersayap panjang). Telur biasanya diletakkan pada jaringan pangkal pelepah daun, tetapi kalau populasinya tinggi telur diletakkan di ujung pelepah daun dan tulang daun. Telur diletakkan berkelompok, satu kelompok telur terdiri dari 3-21 butir. Satu ekor betina mampu meletakkan telur 100-500
butir.
Telur menetas setelah 9 hari di daerah tropis, sedangkan di daerah subtropika waktu penetasan telur lebih lama lagi. Nimfa mengalami lima instar, dan rata-rata waktu yangdiperlukanuntuk menyelesaikanperiodenimfaadalah 12-13 hari. Nimfa dapat berkembang menjadi dua bentuk wereng dewasa. Bentuk pertama adalah makroptera (bersayap panjang) yaitu wereng coklat yang mempunyai sayap depan dan sayap belakng normal. Bentuk kedua adalah brachiptera (bersayap kerdil) yaitu wereng coklat dewasa yang mempunyai sayap depan dan sayap belakang tumbuh tidak normal, terutama sayap belakang sangat kerdil. Faktor alelokemik tanaman merupakan faktor yang agak langsung mempengaruhi bentuk sayap. Jaringan tanaman hijau kaya bahan kimia mimik hormon juvenil, tetapi pada padi yang mengalami penuaan bahan kimia mimik hormon juvenilnya berkurang. Oleh karena itu perkembangan wereng coklat pada tanaman tua atau setengah tua banyak muncul makroptera. Perubahan bentuk sayap ini penting sekali ditinjau dari tersedianya makanan pokok di lapangan.
Gejala Serangan Hama Wereng Coklat
Gejala kerusakan akibat hama wereng coklat antara lain daun-daun berwarna kuning dan pangkal batang berwarna kehitaman. Bila serangan parah maka tanaman akan mengering seperti terbakar (hopperburn). Gagal panen/puso terjadi bila jumlah serangga lebih dari 20 ekor/rumpun, sehingga upaya pengendalian perlu segera dilakukan bila wereng coklat telah mencapai 4 ekor/rumpun pada fase vegetatif, serta 7 ekor/rumpun pada fase generatif (ambang ekonomi).
Peningkatan populasi wereng coklat didorong oleh
1. Perubahan iklim global;
2. Penanaman varietas padi rentan;
3. Penanaman padi tidak serempak;
4. Penggunaan insektisida tidak tepat, baik dari jenis,
5. dosis, waktu dan cara;
6. Pemupukan tidak sesuai dengan kebutuhan tanaman;
\Banyak varietas rentan (IR42, Cilamaya, hibrida, ketan) sebagai pemicu pertama ledakan wereng coklat; Melemahnya disiplin monitoring sehingga lupa dan meremehkan wereng coklat. Perlu diketahui :
- Bila 100 ekor nimfa wereng coklat selama 3 hari berada dalam pertanaman, maka kehilangan hasil mencapai 40%;
- Bila 200 ekor nimfa wereng coklat selama 3 hari berada dalam pertanaman, maka kehilangan hasil mencapai 70%;
- Bila 8 imago wereng coklat selama 3 hari berada dalam pertanaman, maka kehilangan hasil mencapai 30%;
- Bila 16 imago wereng coklat selama 3 hari berada dalam pertanaman, maka kehilangan hasil mencapai 60%.
Bagaimana Mengendalikan Wereng Coklat
1). Dengan teknik budidaya
- Tanam varietas tahan seperti Memberamo, Mekongga, Ciherang, IR74, Inpari 2, Inpari 3, dan Inpari 6;
- Pelihara persemaian dan tanaman muda agar tidak terserang wereng coklat;
- Tanam padi secara serempak dalam suatu wilayah;
- Gunakan pupuk sesuai dengan kebutuhan tanaman, dapat menggunakan BWD (bagan warna daun) sebagai indikator kebutuhan pupuk;
- Pada saat terjadi serangan, keringkan petakan sawah untuk memudahkan teknis pengendalian.
2). Dengan kimiawi
- Menggunakan insektisida dengan bahan aktif fipronil, bupofresin, amidaklrorid, karbofuran, atau teametoksan.
3). Hayati
- Menggunakan ekstrak nimba (Azadirachta indica).
4). Deteksi dini dengan menggunakan lampu perangkap, sehingga dengan segera para petani mengetahui kehadiran wereng coklat di pertanaman.
Sumber : Balai Besar Penelitian Tanaman Padi

Tidak ada komentar:

Posting Komentar